Pupuk Sawit NPK Super

Posted: 9 Desember 2010 in NPK Super+TE

Kelapa sawit (Elaeis Guinensis Jacq) diketahui sebagai primadona tanaman perkebunan di Indonesia, tanaman dengan produksi minyak serta Biomas yang tinggi ini memerlukan pemupukan yang cukup intensif. Tanaman ini juga sangat responsif terhadap pemupukan sehingga kurangnya/tidak tercukupinya unsur hara makro, mikro dan unsur lainnya pada tanaman kelapa sawit ini akan menimbulkan gejala defisiensi yang spesifik disamping turunnya pertumbuhan dan hasil tanaman kelapa sawit itu sendiri.

Tidak dipungkiri bahwa pemasaran CPO (Crude Palm Oil) yang membaik dari tahun ke tahun berimbas secara nyata terhadap kondisi perekonomian petani pengelola kelapa sawit. Survey terhadap kondisi sosial ekonomi petani sawit di kabupaten Merangin menunjukkan bahwa pendapatan petani rata-rata meningkat 300% sejak kelapa sawit berproduksi dibanding sebelum kelapa sawit berproduksi. Secara nominal pendapatan petani rata-rata pertahunnya Rp. 9.800.000 – Rp. 18.000.000 / tahun dimana kelapa sawit berkontribusi antara 85 – 90% dari total pendapatan tersebut. (Puslittanak, 2004)

Dibalik kesuksesan tersebut teramati adanya perubahan perilaku petani yang mengarah keadaan konsumtif dan kurang peduli dengan kemerosotan produksi kelapa sawit karena pengelolaannya kurang baik terutama aspek pemupukannya. Rendahnya pengetahuan petani dalam menginterpretasi fenomena hubungan tanah-tanaman merupakan faktor yang berkontribusi besar pada perubahan perilaku tersebut.

Pupuk adalah makanan (unsur hara) yang sangat dibutuhkan bagi tanaman, pemupukan atau pupuk yang baik harus cukup sesuai kuantitas dan kualitas yang diperlukan tanaman.

Masih banyak petani yang memupuk kelapa sawitnya memakai pupuk tunggal terdiri dari Urea sebagai sumber Nitrogen, SP-36 sebagai sumber Phophate dan KCL sebagai sumber Kalium dengan dosis seadanya tanpa menghiraukan anjuran dari perusahaan. Dalam prakteknya rata-rata petani memupuk sawitnya dengan jumlah 1,0 kg untuk sawit muda dan 2,0 kg per pohon untuk sawit produktif, terdiri dari pupuk N, P dan K untuk setiap semesternya. Jumlah pupuk yang diberikan ini masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan oleh tanaman sawit dimana berdasarkan anjuran perusahaan kebutuhan sawit muda dan produktif akan pupuk masing-masing sebanyak 4,0 kg dan 8,0 kg/pohon/semesternya. Kondisi tersebut didorong oleh kesulitan dalam memperoleh pupuk, masalah transportasi dan cara pemberian pupuk.

Efisiensi pemupukan yang rendah karena pemupukan dilakukan dengan cara menyebar rata di permukaan tanah. Pemupukan Nitrogen bersumber sebagai Urea disebar rata pada permukaan tanah sangat beresiko terhadap kehilangan nitrogen terutama pada musim hujan. Pada kondisi ini kehilangan nitrogen bisa mencapai 70% dalam waktu seminggu. Sedangkan Uexhull dan Fairhust (1991) menyatakan bahwa kehilangan pupuk phosphate dan kalium sangat menonjol pada lahan yang tidak dikonversi karena unsur ini terikat pada partikel liat tanah dan bahan organik yang terbawa oleh erosi dan aliran permukaan. Kehilangan unsur ini bisa menurunkan hasil antara 25 – 30%. Kombinasi dari semua faktor tersebut menyebabkan rendahnya produktivitas kelapa sawit terutama kebun rakyat.

Melihat peranan kelapa sawit dalam perekonomian rumah tangga petani permasalahan pengelolaan kebun kelapa sawit ini menjadi sangat penting untuk dicarikan solusinya, untuk itu PT. RAM Sakti Pratama selaku perusahaan yang bergerak di bidang pupuk anorganik majemuk lengkap telah memproduksi produk pupuk yang mampu menjawab permasalahan pengelolaan kebun kelapa sawit tersebut diatas.

PT. RAM Sakti Pratama adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fertilizer Processing and Packaging Industry memperkenalkan pupuk anorganik majemuk lengkap yang diformulasikan khusus untuk tanaman kelapa sawit yang Praktis, Ekonomis dan Efisien.

“NPK Super + TE”

“Teknologi Pertanian” pada pupuk NPK Super dari PT. RAM Sakti Pratama mengarah pada peningkatan Source dan Metabolisme tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh & berproduksi lebih Optimal

Efektifitas penyerapan pupuk hingga 95% karena pupuk NPK Super + TE dibuat berbentuk batangan (Stick) dengan metode pemupukan ditanamkan kedalam tanah. Hal ini akan menghindari faktor kehilangan pupuk yang diakibatkan oleh penguapan dan erosi / hanyut terbawa air hujan.

Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman kelapa sawit antara lain :

  • Nitrogen (N) = Urea/ZA
  • Phosphate (P205) = TSP/SP-36
  • Potassium (K2O) = KCL/MOP
  • Magnesium (MgO) = Kieserit
  • Sulfur (S) = (MgSo4) Kieserit
  • Calsium (Ca Mg) = Dolomit
  • Boron (B) = Borax
  • Copper (Cu) = CuSO4
  • Zinc (Zn) = ZnSO4
  • Manganese (Mn) = MnSO4

Pupuk sawit NPK Super+TE memiliki beberapa keunggulan dan manfaat yang lebih baik dari pupuk tunggal atau pupuk majemuk lainnya, antara lain :

  1. Mengandung unsur hara LENGKAP dan SEIMBANG.
  2. Bersifat SLOW RELEASE (Controlled Fertilizer) karena mengandung bahan pengikat dan terbungkus dengan bahan yang terbuat dari bahan organik, sehingga akan menjamin ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sawit sampai periode pemupukan berikutnya.
  3. Efektifitas penyerapan pupuk sampai 95% karena pupuk NPK Super + TE dibuat berbentuk batangan (Stick) dengan metode pemupukan ditanamkan kedalam tanah. Hal ini akan menghindari kehilangan pupuk yang diakibatkan oleh penguapan dan erosi/hanyut terbawa oleh air hujan.
  4. Mengandung unsur hara makro primer, sekunder dan unsur mikro essencial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit.
  5. PRAKTIS, Mudah dalam pengaplikasian. EKONOMIS, Hemat tenaga kerja dan hemat transportasi serta harga pupuk yang kompetitif. EFISIEN, dikemas dalam kotak sehingga tidak memerlukan ruang yang besar dan tidak berbau.
  6. Terhindar dari resiko pupuk hilang akibat erosi/hanyut terbawa arus dan penguapan akibat panas.
  7. Dapat meningkatkan kesuburan tanah, menguraikan dan mempermudah penyerapan serta penyaluran nutrisi keseluruh tanaman sawit.
  8. Dapat digunakan untuk pemupukan tanaman perkebunan lainnya seperti karet, cacao, kopi, kelapa tanaman buah-buahan seperti durian, mangga dan lain-lain.

 

 

Baca entri selengkapnya »

Berikut beberapa keunggulan pupuk sawit NPK Super + TE :


  • Mengandung unsur hara yang lengkap dan seimbang yang sangat dibutuhkan oleh tanaman sawit.
  • Efektifitas dan efesiensi lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk tunggal
  • Bersifat Slow Realese (Controlled Fertilizer) karena mengandung bahan pengikat dan terbungkus dari bahan yang terbuat dari bahan organik
  • Praktis, Ekonomis dan Effisien

Praktis, Mudah dalam pengaplikasian

Ekonomis, Hemat Tenaga kerja dan Hemat  Transportasi serta Harga pupuk yang kompetitif

Effisien, Dikemas dalam kotak sehingga tidak memerlukan ruang khusus atau besar.

  • Terhindar dari resiko pupuk hilang akibat erosi/hanyut terbawa arus atau penguapan akibat panas berkepanjangan.
  • Mengandung unsure hara makro primer, sekunder dan unsure mikro essencial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman sawit
  • Dapat meningkatkan kesuburan tanah, menguraikan dan mempermudah penyerapan serta penyaluran nutrisi ke seluruh tanaman sawit.

Jadi kesimpulan tentang pupuk NPK Super+TE dari PT. Ram Sakti Pratama ini adalah :

  • PT. Ram Sakti Pratama dengan Produk pupuk sawit NPK Super+TE bukan produk baru karena,
  • PT. Ram Sakti Pratama meramu 9 jenis pupuk yang telah biasa dipakai petani sejak dahulunya dengan tujuan…
  • Menghindari terjadinya kerugian yang tak tampak bagi petani sawit pada waktu pemupukan.
  • Memaksimalkan hasil panen karena dengan pupuk NPK Super+TE mencapai 95% terserap oleh tanah dan dengan penggabungan (mixed) beberapa jenis pupuk dengan komposisi yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
  • Menekan tingginya biaya pemupukan para petani

Pupuk NPK Super+TE adalah pupuk yang Praktis, Ekonomis dan Effisien.

JAKARTA – Perusahaan sawit asal Malaysia, Metro Group Kajang Group, berencana mengembangkan bisnisnya di sektor hilir. Pada saat ini, Metro Kajang telah menggarap perkebunan sawit di Kalimantan Timur (Kaltim). Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat. Hidayat mengatakan, rencana tersebut disampaikan ketika pihaknya menghadiri pertemuan dengan Duta Besar Indonesia untuk Malaysia di Jakarta, belum lama ini. “Mereka sudah dua tahun menggarap lahan sawit di Kaltim. Melalui Dubes Indonesia untuk Malaysia, mereka menyampaikan rencana itu kepada saya dan menanyakan dukungan pemerintah Indonesia. Mereka berencana membangun processing plant. Bahkan, mereka berencana sampai ke pengolahan untuk pakan ternak dari sisa olahan sawit,” kata Hidayat. Kendati demikian, Hidayat mengaku belum bisa memastikan berapa total investasi yang akan digelontorkan oleh Metro Kajang untuk proyek tersebut. “Saya bilang, silahkan dibuat bisnis proposalnya. Pemerintah akan memfasilitasi rencana investasi itu, mulai dari tax allowance dan penyikapan fiskal, termasuk soal lahan. Meski bukan wewenang Kementerian Perindustrian (Kemenperin), tapi saya akan usahakan untuk mengkoordinasikannya dengan pemerintah daerah dan Kementerian Pertanian (Kementan). Yang penting, syaratnya adalah harus diolah di dalam negeri. Dirjen Industri Agro Kemenperin Benny Wachyudi akan menindaklanjuti rencana itu,” jelas Hidayat. Seperti diketahui, pada saat ini, pemerintah tengah menyiapkan kawasan industri khusus untuk berbasis sawit. Saat ini, lahan-lahan seperti di Sei Mangke dan Dumai tengah disiapkan dalam rangka menarik investor hilir berbasis sawit (Sumber berita)

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Budidaya tanaman kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jacq) oleh pemerintah, swasta dan masyarakat sangat besar dengan melihat tingginya keuntungan yang diperoleh dari usaha ini. Indonesia sebagai negara pengexport minyak kelapa sawit mampu memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri.

Prospek komoditas kelapa sawit semakin cerah sejak diketahui bahwa minyak kelapa sawit dapat menggantikan minyak diesel sebagai bahan bakar mesin diesel.

Tanaman dengan produksi biomas serta minyak yang tinggi ini memerlukan pemupukan yang cukup intensif.  Pada tanaman yang telah menghasilkan (TM) dosis pupuk yang diaplikasikan berkisar antara 2-3kg urea, 1,5-2kg RP atau SP36 dan MOP untuk setiap pokok / tahun. disamping itu juga ditambahkan pupuk kieserit untuk memenuhi kebutuhan unsur Mg dan pupuk Boron.

Biaya pemupukan untuk tanaman kelapa sawit ini rata-rata 40-60% dari Biaya Pemeliharaan Tanaman atau sekitar 15-20% dari Total Biaya Produksi kelapa sawit. (Yahya 1990)

Tanaman kelapa sawit sangat responsif terhadap pemupukan sehingga kurangnya unsur hara seperti N, P, K, Mg dan B akan menimbulkan gejala defisiensi yang spesifik disamping turunnya pertumbuhan dan hasil tanaman kelapa sawit.

Tanaman kelapa sawit sangbat memerlukan kecukupan unsur hara untukm pertumbuhan organ vegetatif maupun perkembangan organ reproduktifnya.

Unsur “N” bagi tanaman sangat penting karena berfungsi sebagai penyusun Nukleotida, asam amino dan protein asam nukleat dan khlorofil daun.

Baca entri selengkapnya »

KELAPA SAWIT

Posted: 25 September 2010 in Artikel

Buah kelapa sawit

Buah kelapa sawit terdiri dari daging dan biji. Daging kelapa sawit pada proses pengolahannya akan diolah menjadi minyak kelapa mentah atau CPO (Crude Palm Oil), sedangkan bijinya akan diolah menjadi minyak inti sawit atau PKO (Palm Kernel Oil).

CPO saat diuraikan akan menghasilkan minyak sawit padat (stearin) dan minyak sawit cair (olein). Baik olein maupun stearin memiliki banyak produk turunan dan menjadi bahan dasar sejumlah industri seperti makanan, bahan baku industri kosmetik, bahan baku industri farmasi, hingga bahan baku industri baja, kawat, dan radio.

Dalam industri makanan, CPO menghasilkan minyak goreng, mentega, margarine, cokelat, es krim, makanan ternak, mie instan, gula gula, hingga biskuit. Untuk industri kosmetik dan obat – obatan, CPO menjadi bahan dasar dari berbagai macam krim, shampo, pelembab tubuh, minyak rambut, vitamin, hingga beta karoten.

Untuk industri pengolahan, CPO membantu berbagai pengolahan logam dan perak.. Dalam industri kulit, CPO digunakan untuk membuat kulit menjadi lebih halus, lentur dan tahan terhadap tekanan tinggi atau temperatur tinggi.

Bagi industri kimia, CPO menjadi bahan dasar detergen, sabun, minyak, bahan fermentasi anggur, lapisan cat, minyak pelumas, lilin, bahan semir furniture, bahan peledak, minyak bahan tekstil, hingga biodiesel yang dicanangkan akan menjadi sumber energi alternatif.

Minyak inti sawit (PKO) mempunyai produk turunan yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan CPO. Tiga produk turunan PKO yakni fatty acid, lauric acid, dan myristic acid. Selain tiga zat ini, yang biasa ditemui adalah margarin, pengganti mentega, lemak khusus, es krim, krim kopi, gula-gula, krim buatan, sabun, deterjen, sampo, dan kosmetik.

Kelapa sawit. Komoditas ini memiliki banyak produk turunan. Hal ini tidak terlepas dari predikatnya sebagai produk yang menjadi komoditas ekspor andalan. Sawit memliki lebih dari 30 produk turunan mulai dari produk pangan, perawatan tubuh, hingga bahan kimia. Selain itu, hampir seluruh komponen penyusun sawit memiliki kegunaan. Mulai dari buah, tempurung, daun, hingga tandannya. Berikut ini adalah produk turunan dari kelapa sawit.

Bungkil

Bungkil adalah hasil sisa dari pengolahan CPO dan PKO. Hasil sisa ini dapat dijadikan komponen bagi makanan ternak seperti dedak bagi sapi dan kerbau.

Tempurung

Tempurung sawit dapat diolah menjadi tiga produk yakni tepung tempurung, arang, dan bahan bakar. Untuk arangnya dapat diolah lagi menjadi briket arang, karbon aktif, dan asam organik.

Serat

Sama halnya serat kayu yang dimanfaatkan untuk menjadi bubur kertas, serat kelapa sawit pun dapat menjadi bahan selulosa yang dapat diolah menjadi kertas.

Tandan

Tandan sawit merupakan sumber pupuk kalium. Oleh sebab itu, tandan banyak diproses menjadi pupuk organik melalui fermentasi.

Dengan berbagai macam produk turunannya, kelapa sawit terlihat sebagai industri yang sangat menjanjikan. Walaupun begitu, satu hal yang patut dijadikan catatan adalah sawit di Indonesia masih lebih berfokus pada industri hulu yaitu lebih banyak di perkebunan dan masih kurang di pengolahan. Berdasarkan data PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit), pada 2008 sekitar 75 persen dari semua CPO Indonesia diekspor ke pasar internasional seperti India, Eropa, dan China. Sisanya, sekitar 25 persen, digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Salah satu ironi yang terjadi adalah CPO yang diekspor masuk kembali ke Indonesia dalam bentuk produk turunannya. Hal ini turut menjadi perhatian bersama demi terus mengembangkan industri hilir dan menghilangkan ketergantungan pada produk luar

Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.

Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.

Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.

Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.

Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.

Buah terdiri dari tiga lapisan:

  • Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
  • Mesoskarp, serabut buah
  • Endoskarp, cangkang pelindung inti

Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.

Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).

Syarat hidup

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU – 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu komoditi dari tiga komoditi (karet, kakao, dan kelapa sawit) pada sub sektor perkebunan yang mendapat prioritas utama pemerintah dalam revitalisasi perkebunan seluas 2 juta ha yang dimulai tahun 2007 sampai 2009 (Dirjen Perkebunan 2007).  Sektor industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor unggulan bagi negara Malaysia dan Indonesia. Hal ini dikarenakan kondisi geografis wilayah Malaysia dan Indonesia memang sangat cocok untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit.  Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Malaysia dan Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.  Hingga tahun 2005, lebih dari 85% produksi minyak dunia dihasilkan oleh dua negara produsen utama minyak sawit, yaitu Malaysia dan Indonesia.

Syahbana (2007) mengemukakan bahwa luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 5,6 juta ha, melibatkan 2,7 juta kepala keluarga petani, dengan produksi tandan buah segar (TBS) rata-rata nasional baru dapat mencapai 14 sampai 16 ton ha tahun־¹, sedangkan Malaysia telah mencapai 30 ton tiap hektar tiap tahun. Rendahnya produksi TBS yang dicapai sebagai akibat rendahnya produksi tandan bunga betina, yaitu 8 sampai 12 pohon ־¹ tahun־¹, sedangkan produksi tersebut dapat mencapai 16 sampai 24 tandan pohon tahun־¹ (Hardon dan Corley, 1982; Tahir, 2003).

Produksi tanaman ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan, rendahnya produksi tandan bunga betina kelapa sawit salah satunya dipengaruhi oleh tingkat radiasi matahari yang diterima, jumlah daun (pelepah), kerapatan pelepah, dan serapan hara, terutama unsur nitrogen (N), khusus daerah tropis seperti Indonesia radiasi matahari bukan merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit (IOPRI, 2008).

Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman golongan C4, yaitu memiliki titik kompensasi cahaya tinggi sampai cahaya terik, tidak dibatasi oleh fotorespirasi, besaran yang menggambarkan banyak sedikit radiasi matahari yang mampu diserap tanaman tergantung pada indeks luas daun (ILD).  Selain itu, dalam daunnya terdapat dua klroplast, yaitu sel mesopil dan seludang berkas, pada kloroplast terdapat klorofil yang berfungsi untuk (a) panen cahaya, (b) mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, (c) penyumbang elektron utama (P 680 dan P 700), (d) penerima elektron utama dan eflouresensinya, keadaan inilah bila optimal yang diikuti dengan serapan N optimal, maka produksi tanaman meningkat, yaitu terbentuknya bunga dan buah maksimal (Sallisbury dan Ross, 1992).

Permasalahan utama rendahnya produktivitas pertumbuhan, perkembangan, dan produksi suatu tanaman ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan laju pertumbuhan, perkembangan, dan produksi suatu tanaman adalah tersedianya unsur hara yang cukup di dalam tanah, diantaranya 105 unsur yang ada di atas permukaan bumi, ternyata baru 16 unsur yang mutlak diperlukan oleh suatu tanaman untuk dapat menyelesaikan siklus hidupnya dengan sempurna. Ke 16 unsur tersebut terdiri dari 9 unsur makro dan 7 unsur mikro. 9 unsur makro dan 7 unsur mikro inilah yang disebut sebagai unsur esensial (Suwandi dan Tobing, 1982).

Schaffer, (1996) mengemukakan bahwa pertumbuhan tanaman erat kaitannya dengan hara yang diserap dari dalam tanah, terutama unsur N, karena unsur tersebut terfokus pada sintesis klorofil dan sintesa protein maupun enzim, yaitu enzim rubisco (ribulosa bifosfat karboksilase) yang berperan sebagai katalisator dalam fiksasi karbondioksida yang dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis.  Selanjutnya penurunan kadar N dalam tanaman berpengaruh terhadap fotosintesis baik lewat kandungan klorofil maupun enzim fotosintetik yang akhirnya menurunkan hasil (pati) yang terbentuk, keadaan tersebut mempengaruhi produktivitas tanaman, terutama pembentukan bunga dan buah.

Winarno, dkk., (2000) mengemukakan bahwa pemberian pupuk nitrogen dalam bentuk urea lebih cepat tersedia dibanding dengan pupuk majemuk dan reaksinya sudah dapat diamati pada hari ke 15 setelah aplikasi.  Selain itu, pengaruh tunggal pupuk urea pada tanaman kelapa sawit dapat meningkatkan berat tandan buah dari 21,74 ton ha-1 tahun-1 menjadi 27,60 ton ha-1 tahun-1 pada dosis 1,0 sampai 4,5 kg pohon-1.  Selanjutnya persentase bunga yang terbentuk juga tinggi, walaupun dalam penelitian tersebut tidak disebutkan jumlah bunga tiap tandan bunga betina yang terbentuk.

Untuk itu, dalam percobaan mengenai respon pembentukan bunga kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap Pupuk N dengan dosis berbeda akan ditelaah apakah pemberian pupuk N pada tanaman kelapa sawit akan mempengaruhi pembentukan jumlah tandan bunga betina yang terbentuk optimum, serta menentukan tingkat sex rasio bunga jantan dan bunga betina yang terbentuk. (Sumber data)

TUJUAN :

  1. Untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk N yang diaplikasikan pada tanaman kelapa sawit dalam pembentukan tandan bunga.
  2. Untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk N terhadap besarnya sex rasio yang timbul pada bunga betina dan bunga jantan kelapa sawit.

KONTRIBUSI :

  1. Hasil pengamatan ini diharapkan sebagai bahan informasi dalam pengembangan budidaya kelapa sawit serta peningkatan kualitas pengabdian kepada masyarakat dalam rangka peningkatan ekonomi kerakyatan.
  2. Hasil percobaan diharapkan sebagai bahan pembelajaran pada program studi Produksi Tanaman Perkebunan  Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan.

Peranan Unsur Nitrogen (N)

Gardner dkk., (1985); Sallisbury dan Ross, (1992)  mengemukakan bahwa tanaman menyerap unsur N dalam bentuk ion NOֿ3 dan NH+4.  Ion mana yang akan lebih dahulu diserap tergantung pada keadaan pH.  Pada pH di atas 7 (keadaan basa) maka ion NH+4 (amonium) yang akan lebih cepat diserap sedangkan pada pH dibawah 7 (keadaan asam) maka ion NOֿ3 (nitrat) yang lebih besar peluangnya untuk diserap. Hal ini disebabkan karena pada pH di atas 7 (keadaan basa) banyak terdapat ion hidroksida (OH) ֿ sehingga ion NOֿ3 yang sama-sama bervalensi satu dan bermuatan negatif akan saling bersaing akibatnya ion NH+4 yang berpeluang lebih besar untuk diserap dan sebaliknya pada pH rendah banyak tersedia ion H+ berarti ion NH+4 yang sama-sama valensi satu dan bermuatan positif akan berkompetisi sehingga peluang ion NOֿ3 untuk diserap akan jauh lebih besar kalau diberikan dalam bentuk pupuk urea, yaitu CO (NH2)2 = O2- → 2HNO2 + 2H2O + Energi dan 2HNO2 + O2 → 2HNO3. maka H+─ NO3 (diserap), sebaliknya kalau diberikan pupuk ZA (amonium sulfat) (NH4)2 SO4 → 2NH4 (diserap) + SO4 (diserap).

Gambar 1. Ikatan kimia dan molekul pupuk Urea

Sumber: aqobah.net/tag/tanaman

Schaffer, (1996) menyatakan bahwa protein dan asam nukleat yang diperoleh dalam fotosintesis dipakai untuk pengisian inti sel yang terus membelah dari satu menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan dan seterusnya sehingga tanaman dapat tumbuh dan membesar.  Suatu hal yang perlu diingat bahwa apabila pemberian N yang berlebihan akan menyebabkan rasa pahit seperti yang terjadi pada timun, sedang untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit daun menjadi lemah dan mudah terserang hama penyakit.  Kekurangan N dapat menghambat pertumbuhan tanaman, daun menguning, kering dan jaringan mati.  Buah yang kekurangan N pertumbuhannya tidak sempurna, cepat masak dan kadar proteinnya rendah.

Bila pemberian N melalui pemupukan daun terlalu sering, maka NH3 akan tertimbun dalam tubuh tanaman, dilain pihak ada hambatan pembentukan protein dan asam nukleat menyebabkan tanaman mencari alternatif lain yaitu pembentukan amida yaitu senyawa sekunder yang rasanya pahit.  Sebab bila NH3 ini tertimbun dalam jumlah banyak justru akan berbalik meracuni tanaman (Sukarji, dkk., 2000).

Pupuk Urea adalah pupuk kimia yang mengandung N berkadar tinggi atau sekitar 46 persen, pupuk tersebut merupakan zat hara yang sangat diperlukan tanaman.  Pupuk urea berbentuk butir kristal berwarna putih dengan rumus kimia NH2CONH2 mudah larut dalam air dan bersifat higroskopis, sehingga dalam aplikasinya di lapangan ditaburkan di sekitar bokoran atau batang tanaman.  Kegunaan pupuk tersebut adalah daun tanaman berwarna hijau dan meningkatkan kandungan klorofil daun, mempercepat pertumbuhan tanaman terutama organ vegetatif dan perakaran serta menambah kandungan protein tanaman (IOPRI, 2008).

Gambar 2. Pupuk Urea.

Sumber: eriantosimalango.wordpress.com

Fisher, (1992) mengemukakan ketersediaan unsur-unsur esensial di dalam tanah sangat ditentukan oleh pH, unsur N tersedia pada pH 5,5 sampai 8,5, P pada pH 5,5 sampai 7,5 sedangkan K pada pH 5,5 sampai 10 sebaliknya unsur mikro relatif tersedia pada pH rendah. Pelajaran penting yang perlu diingat dari ketersediaan unsur esensial dalam hubungannya dengan pH, yaitu bahwa untuk melakukan percobaan lapang disarankan agar dilakukan pada area dengan pH tanah kurang lebih 7.  Hal ini disebabkan pada pH tersebut semua unsur hara esensial baik makro maupun mikro berada dalam keadaan yang siap untuk diserap oleh akar tanaman sehingga dapat menjamin pertumbuhan dan produksi tanaman.

Kriteria yang harus dipenuhi sehingga suatu unsur dapat disebut sebagai unsur esensial adalah (a).  Unsur tersebut diperlukan untuk menyelesaikan satu siklus hidup tanaman secara normal (dari biji ke biji), (b).  Unsur tersebut memegang peran penting dalam proses biokhemis tertentu dalam tubuh tanaman dan peranannya tidak dapat digantikan atau disubtitusi secara keseluruhan oleh unsur lain, (c).  Peranan dari unsur tersebut dalam proses biokimia tanaman adalah secara langsung dan bukan secara tidak langsung (IOPRI, 2008).

Morfologi Bunga Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina.  Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat.  Tanaman kelapa sawit mengadakan penyerbukan silang (cross pollination).  Artinya, bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaraan angin dan atau serangga penyerbuk.  Bunga kelapa sawit berumah satu, artinya pada satu batang terdapat bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah pada tandan bunga yang berbeda. Tandan bunga terletak di ketiak daun, mulai tumbuh setelah tanaman berumur sekitar satu tahun.  Primordia (bakal) bunga terbentuk sekitar 33 sampai 34 bulan sebelum bunga matang (siap melaksanakan penyerbukan).  Pertumbuhan bunga sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanaman. Tanaman yang tumbuh kerdil pertumbuhan bunganya lebih lambat.  Letak bunga jantan yang satu dengan lainnya sangat rapat dan membentuk cabang-cabang bunga yang panjangnya antara 10 sampai 20 cm. Pada tanaman dewasa, satu tandan mempunyai kurang lebih 200 cabang bunga. Setiap cabang mengandung 700 sampai 1200 bunga jantan.  Bunga jantan ini terdiri dari 6 helai benangsari dan 6 perhiasan bunga. Satu tandan bunga jantan dapat menghasilkan 25 sampai 50 gram tepungsari.  Bunga betina terletak dalam tandan bunga, tiap tandan bunga mempunyai 100-200 cabang dan setiap cabang terdapat paling banyak 30 bunga betina. Dalam satu tandan terdapat 3.000 sampai 6.000 bunga betina.  Bunga betina memiliki 3 putik dan 6 perhiasan bunga.  Diantara bakal buah hanya satu yang subur, jarang terdapat dua atau lebih.

Bunga jantan maupun bunga betina biasanya terbuka selama 2 hari (jika dalam musim hujan bisa sampai 4 hari). Tepung sari dapat menyerbuki selama 2-3 hari, tetapi makin lama daya hidup viabilitasnya makin menurun

Gambar 3.Bunga jantan dan bunga betina kelapa sawit

Keterangan  :

a. bunga jantan

b. bunga betina

c. bunga betina masa anthesis

d. bunga jantan masa anthesis

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa;

(1)   Penambahan dosis pupuk N tidak mempengaruhi pembentukan bunga jantan,

(2)  Penambahan dosis pupuk N mempengaruhi pembentukan bunga betina. Dosis pupuk N 1750 g pohon-1 menghasilkan bunga betina sebanyak 12,7 tandan, tetapi tidak berbeda dengan perlakuan dosis 500 g pohon-1 sampai 3000 g pohon-1,

(3)  Dosis pupuk N adalah 500 g pohon-1,

(4)  Hasil sex rasio tertinggi pada perlakuan dosis 1750 g tanaman-1 yaitu sebesar 86,62%.

(5)  Sex rasio maksimal terbentuk pada perlakuan dosis 500 g pupuk N tanaman-1.

Pupuk NPK Super + TE produksi PT Ram Sakti Pratama ini sangat praktis dalam pengaplikasian, Ekonomis dan effisien. berikut tata cara pemakaian nya :

  • Pemupukan dilakukan dengan cara membenamkan pupuk NPK Super+TE ini kedalam tanah, setiap lobang dibenamkan satu batang (stick) pupuk, pembungkusnya jangan dilepas untuk PH<5, dan pembungkus disobek disalah satu lingkaran bulat untuk PH>5, dan yang disobek menghadap kedalam tanah.

  • Pembenaman dilakukan dengan kedalaman kurang lebih 15 cm dengan menggunakan linggis sebagai sarana pembuatan lobang, kemudian dimasukkan pupuk NPK Super + TE kedalam lobang dan setelah itu lobang diratakan kembali dengan tanah sehingga permukaan tanah sama seperti semula.

  • Pemupukan dilakukan pada jarak pertengahan antara batang pohon dengan titik jatuh ujung daun.
  • Dosis pemupukan disesuaikan dengan umur tanaman
No. Umur Tanaman (Tahun) Batang pupuk/pohon sawit Ket
1. 1-4 2-3
2. 5-7 4-5
3. 7-10 5-6
4. 10 keatas 6-8